Kikir


Kikir

Suatu hari, Nasrudin pergi bertamasya bersama beberapa temannya. Salah seorang temannya itu adalah seorang yang sangat bakhil alias pelit bin medhit.

Ketika tiba disebuah sungai yang arusnya sangat deras dan tanpa jembatan, mereka pun harus menyebranginya. Saat si bakhil menyebrang, dia tergelincir dan jatuh kesungai, terbawa arus karena dia tidak bisa berenang.

Teman-temannya berusaha menolong, “Berikan tanganmu? Aku akan menolongmu”.

Tetapi si bakhil tidak mau memberikan tangannya. Diapun timbul tenggelam terbawa arus sungai. Teman-temannya terus berusaha menolongnya, “Ayo sini, berikan tanganmu! Cepatlah!”

Si Bakhil tetap tidak mau mengulurkan tangannya kepada teman yang mau menolongnya. Nasrudin merasa ada yang salah pada kalimat temannya yang akan menolong si bakhil itu. Maka, dia pun turun tangan. “Ini tanganku, ambilah! Kau akan kuselamatkan.”

Tanpa buang waktu lagi, si bakhil langsung mengambil tangan Nasrudin yang dengan cepat mengangkatnya ke tepi sungai.”

Renungan:

Sahabat, Salah satu tanda kebodohan adalah kekikiran. Orang yang kikir dikatakan kikir dikatakan bodoh karena dia mengira apa yang ada padanya adalah benar-benar miliknya. Padahal itu semua adalah “Soal Ujian” bagi kita.

Dan, yang menjadi milik kita adalah jawaban dari “soal ujian” itu. Kalau “soalnya” berupa kenikmatan ya jawabannya kesabaran. Jika “soalnya” berupa kesusahan, ya jawabannya kesabaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s